Setelah setahun mengikuti proses pembelajaran dan pendidikan, maka anak-anak harus mengikuti ujian akhir semester yang bakal menentukan tingkat keberhasilan belajar mereka. Ujian ini selanjutnya memberikan hasil yang dijadikan sebagai anutan unuk kenaikan kelas.
Kemarin tanggal 26 Juni 2009 adalah hari penerimaan raport bagi anak didikku. Setelah melampaui masa sulit dengan ujian, dan dikoreksi bersama, amak didapatkan hasil bahwa anak-anak semua naik kelas. Sebenarnya ada dua anak yang sangat sukar bagiku untuk menaikkan begitu saja. Tetapi, melihat kondisinya, dimana mereka begitu antusias untuk terus belajar, walau belum juga dapat, terpaksa mereka aku naikan juga...
Dan, akhirnya anak-anak didikku kunaikkan semua setelah melihat hasil belajar dan proses belajar mereka.. Anak-anak bangsa...
Sabtu, 27 Juni 2009
Selasa, 09 Juni 2009
Guru Harus Dewasa
Bahwa guru itu diGugu dan DitiRu, setiap apa yang dilakukan dan diucapkan menjadi bahan duplikasi dan anutan bagi semua orang, khsuusnya anak didik. Oleh karena itulah, maka sudah tentu seorang guru harus benar-benar mempunyai kepribadian yang stabil dan benar-benar dapat diguGu dan ditiRu oleh semua orang.
Untuk dapat berkepribadian stabil, maka salah satu aspek yang penting adalah kedewasaan seseorang, guru harus dewasa. Dan, kedewasaan adalah satu masa khusus yang dimiliki oleh setiap manusia dalam perkembangan hidupnya sebagai wujud dinamisasi kehidupannya. Orang dewasa dapat diartikan sekelompok orang yang dapat memilih dan memilah hal hal yang baik dan buruk untuk dirinya dan selanjutnya melaksankaan kegiatan dengan pertanggungjawaban pada setiap akhirnya.
Setiap guru memang harus dapat menempatkan diri dengan sebaik-baiknya sehingga tidak hanya pintar ngomong atau memindah-mindahkan urat lidah untuk menuntupi apa yang sudah dilakukan.
Guru jangan suka mengumbar kata dan perbuatan yang sama sekali tidka mencerminkan harkat dan martabat seorang guru...
Ya... guru harus dapat bersikap dewasa walaupun dari usia kalender mereka masih ukup mudah... apalagi bagi guru yang berusia banyak... harus dan wajib bersikap dewasa!
Untuk dapat berkepribadian stabil, maka salah satu aspek yang penting adalah kedewasaan seseorang, guru harus dewasa. Dan, kedewasaan adalah satu masa khusus yang dimiliki oleh setiap manusia dalam perkembangan hidupnya sebagai wujud dinamisasi kehidupannya. Orang dewasa dapat diartikan sekelompok orang yang dapat memilih dan memilah hal hal yang baik dan buruk untuk dirinya dan selanjutnya melaksankaan kegiatan dengan pertanggungjawaban pada setiap akhirnya.
Setiap guru memang harus dapat menempatkan diri dengan sebaik-baiknya sehingga tidak hanya pintar ngomong atau memindah-mindahkan urat lidah untuk menuntupi apa yang sudah dilakukan.
Guru jangan suka mengumbar kata dan perbuatan yang sama sekali tidka mencerminkan harkat dan martabat seorang guru...
Ya... guru harus dapat bersikap dewasa walaupun dari usia kalender mereka masih ukup mudah... apalagi bagi guru yang berusia banyak... harus dan wajib bersikap dewasa!
Minggu, 03 Mei 2009
Kelas Keroyokan
Bahwa kelas VI seringkali menjadi beban untuk semua guru sehingga tidak sedikit guru yang menghindar dari tugas sebagai guru kelas VI. Mereka enggan mengajar di kelas VI sebab pada akhir tahun merupakan cerminan bagi keberhasilan proses pembelajaran di sekolah.
Seringkali yang terjadi adalah guru abadi untuk kelas VI sebab guru bersangkutan dianggap selalu berhasil membawa dan mengantarkan anak didiknya menghadapi ujian akhir sekolah. Bahkan keberhasilan tersebut dinilai hingga keberhasilan anak melanjutkan pendidikan di tingkat menengah. Semakin banyak anak didik yang diterima di sekolah negeri, maka dianggap berhasil.
Memang bagus kebijakan tersebut dilaksanakan, tetapi akan lebih bagus lagi jika diterapkan kebijakan yang memungkinkan semua guru mengalami atau menjalankan kondisi yang sama sehingga kompetensi mereka merata. tidka terpusat pada satu orang guru saja untuk kelas VI. Bahwa sebenarnya semua guru mempunyai kesempatan yang sama untuk mengaktualisasikan kompetensinya sehingga mampu menjalankan proses pendidikan yang berhasil.
JIka tidak, maka setiap tahun pasti terjadi 'kelas keroyokan'sebab dianggap guru kelas VI tidak mempunyai kemampuan yang layak untuk membawa dan mengantar anak didiknya menghadapi ujian akhir yang sangat menentukan kredibilitas sekolah di pandangan masyarakat. tetapi, jika 'kelas' keroyokan tetap dijalankan, tentunya kita tidak dapat mengetahui secara pasti guru mana yang benar-benasr kompeten dalam bidangnya. Guru mana yang benar-benar mampu membawa dan mengantar anak didik menuju keberhasilannya?!
Kepala sekolah seharusnya yakin dan percaya kepada guru yan sudah ditugasi untuk mengajar di kelas VI. Untuk itu tidak perlu dan tidak etis rasanya jika kelas yan sudah dikuasakan pada guru kelas VI ternyata diambil secara keroyokan untuk diajar bersama-sama. Duh, sampai kapan guru-guru ini berkompeten jika ternyata untuk mengajar di eklas VI, kelas akhir saja ketakutan dan menyerahkan begitu saja kelasnya yang dipakai untuk 'keroyokan!'
Seringkali yang terjadi adalah guru abadi untuk kelas VI sebab guru bersangkutan dianggap selalu berhasil membawa dan mengantarkan anak didiknya menghadapi ujian akhir sekolah. Bahkan keberhasilan tersebut dinilai hingga keberhasilan anak melanjutkan pendidikan di tingkat menengah. Semakin banyak anak didik yang diterima di sekolah negeri, maka dianggap berhasil.
Memang bagus kebijakan tersebut dilaksanakan, tetapi akan lebih bagus lagi jika diterapkan kebijakan yang memungkinkan semua guru mengalami atau menjalankan kondisi yang sama sehingga kompetensi mereka merata. tidka terpusat pada satu orang guru saja untuk kelas VI. Bahwa sebenarnya semua guru mempunyai kesempatan yang sama untuk mengaktualisasikan kompetensinya sehingga mampu menjalankan proses pendidikan yang berhasil.
JIka tidak, maka setiap tahun pasti terjadi 'kelas keroyokan'sebab dianggap guru kelas VI tidak mempunyai kemampuan yang layak untuk membawa dan mengantar anak didiknya menghadapi ujian akhir yang sangat menentukan kredibilitas sekolah di pandangan masyarakat. tetapi, jika 'kelas' keroyokan tetap dijalankan, tentunya kita tidak dapat mengetahui secara pasti guru mana yang benar-benasr kompeten dalam bidangnya. Guru mana yang benar-benar mampu membawa dan mengantar anak didik menuju keberhasilannya?!
Kepala sekolah seharusnya yakin dan percaya kepada guru yan sudah ditugasi untuk mengajar di kelas VI. Untuk itu tidak perlu dan tidak etis rasanya jika kelas yan sudah dikuasakan pada guru kelas VI ternyata diambil secara keroyokan untuk diajar bersama-sama. Duh, sampai kapan guru-guru ini berkompeten jika ternyata untuk mengajar di eklas VI, kelas akhir saja ketakutan dan menyerahkan begitu saja kelasnya yang dipakai untuk 'keroyokan!'
Sabtu, 18 April 2009
Pentingnya Komunikasi Antar Personal Guru
Di sekolah, eksistensi guru adalah sebagai fasilitator pendidikan, pembelajaran dan pembimbing sikap sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.Dan, untuk dapat melaksanakan hal tersebut, maka perlu adanya komunikasi intensif antar personal terkait dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Komunikasi yang diharapkan dalah komunikasi yang mampu mengkontribusi kondisi dan kegiatan efektif sekolah.
Komunikasi ini termasuk hubungan guru dengan guru, guru dengan kepala sekolah, guru dengan pesuruh sekolah, guru dengan anak didik, guru dengan institusi stakeholder, dan guru dengan masyarakat, orangtua anak didik.
Seringkali hambatan terbesar adalah hilangnya komunikasi ini sehingga proses tidak berlangsung efektif, bahkan seringkali menghambat proses.
Oleh karena itulah, agar proses pendidikan dan pembelajaran dapat efektif, maka perlu dikembangan dan ditingkatkan komunikasi yang efektif dan maksimal. dan, untuk hal tersebut dibutuhkan kesadaran atas posisi dan kondisi masing-masing. hilangkan egoisme diri dan kembangkan pesadaran untuk kebersamaan!Jangan ada yangb merasa lebih dibandingkan yang lainnya!
Komunikasi ini termasuk hubungan guru dengan guru, guru dengan kepala sekolah, guru dengan pesuruh sekolah, guru dengan anak didik, guru dengan institusi stakeholder, dan guru dengan masyarakat, orangtua anak didik.
Seringkali hambatan terbesar adalah hilangnya komunikasi ini sehingga proses tidak berlangsung efektif, bahkan seringkali menghambat proses.
Oleh karena itulah, agar proses pendidikan dan pembelajaran dapat efektif, maka perlu dikembangan dan ditingkatkan komunikasi yang efektif dan maksimal. dan, untuk hal tersebut dibutuhkan kesadaran atas posisi dan kondisi masing-masing. hilangkan egoisme diri dan kembangkan pesadaran untuk kebersamaan!Jangan ada yangb merasa lebih dibandingkan yang lainnya!
Rabu, 31 Desember 2008
Malam tahun baru
Pada malam tahun baru ini rasanya hidup semakin mantap dengan berbagai kegiatan yang jelas terkoordinasi dan terarah. Hidup mulai sekarang harus lebih ditekankan pada pencapaian tujuan yang pasti.
Perjalanan selama setahun ini telah memberikan banyak sekali hal yang baik dan buruk bagi kehidupan ini, pola pergaulan di sekolah, di rumah dan di masyarakat memberikan gambaran pasti tentangs egala hal yang berlaku di kehidupan ini.
selama bergaul di sekolah, aku melihat adanya beberapa rekan yang bertindak seenaknya sendiri, tidak lagi berpegang pada tata aturan kinerja yang bagus sebagaimana seorang guru. ada juga yang begitu acuh terhadap tugas dan kewajibannya sehingga anak didiknya dibiarkan begitu saja. Aku tidak dapat berbuat apa-apa sebab aku bukan pimpinan di sekolah ini, walau sering juga tanpa mencoba untuk menggurui aku berkali mengatakan poentingnya kejujuran dalam kerja.
Semoga saja tahun ini menjadi lebih baik dan anak-anak mendapatkan jatah pembelajaran serta mampu berkreasi untuk kemajuan dunia pendidikan di negeri ini.
Perjalanan selama setahun ini telah memberikan banyak sekali hal yang baik dan buruk bagi kehidupan ini, pola pergaulan di sekolah, di rumah dan di masyarakat memberikan gambaran pasti tentangs egala hal yang berlaku di kehidupan ini.
selama bergaul di sekolah, aku melihat adanya beberapa rekan yang bertindak seenaknya sendiri, tidak lagi berpegang pada tata aturan kinerja yang bagus sebagaimana seorang guru. ada juga yang begitu acuh terhadap tugas dan kewajibannya sehingga anak didiknya dibiarkan begitu saja. Aku tidak dapat berbuat apa-apa sebab aku bukan pimpinan di sekolah ini, walau sering juga tanpa mencoba untuk menggurui aku berkali mengatakan poentingnya kejujuran dalam kerja.
Semoga saja tahun ini menjadi lebih baik dan anak-anak mendapatkan jatah pembelajaran serta mampu berkreasi untuk kemajuan dunia pendidikan di negeri ini.
Sabtu, 13 Desember 2008
Ribetnya menjadi Guru Sekolah Dasar
Sebagai seorang guru SD, aku merasa betul bagaimana ribetnya. Setiap saat banyak tugas yang harus diselesaikan sehingga kadangkala harus diselesaikan di rumah. Praktis, pekerjaan guru adalah sehari semalam, 24 jam.
Kalau kita membicarakan mengenai materi pelajaran, mungkin tidak ada permasalahan sebab semua sudah tersedia di dalam kurikulum yang menjadi anutan, acuan untuk proses pembelajarannya. Guru hanya memilih dan memilah yang seuai untuk anak didiknya.
Tetapi, yang terpenting adalah bagaimana seorang guru mendidik. Terus terang saja, jika kita berpikir logis, proses pembelajaran di SD jauh lebih krusial dibandingkan di sekolah lanjutan. Sekolah lanjutan hanya melanjutkan apa yang sudah didapatkan oleh anak-anak saat menempuh pembelajaran di SD.
SD, sebagai sekolah dasar, mempunyai pengertian bahwa di sekolah inilah anak-anak mendapatkan dasar-dasar setiap permasalahan. Di sekolah inilah mereka mendfapatkan dasar pelajaran IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Matematika, dan yang terpenting adalah pola kehidupan.
Bahwa, sebenarnya, peranan guru sebagai pengajar dan pendidik sekaligus ada di pundak para guru SD. Guru SD-lah yang berperan ganda di dalam proses ini, yaitu sebagai pendidik sekaligus sebagai pengajar. Di SD, anak-anak diajar berbagai pengetahuan dan keterampilan. Di SD anak-anak mendapatkan dasar sikap hidup yang baik dan benar. Nilai-nilai kehidupan diberikan kepada anak-anak di tingkatan ini.
Anak-anak dididik agar dapat bersikap sopan dalam kehidupannya. Bagaimana cara berhormat pada orang yang lebih tua. Bagaimana cara berbicara terhadap orangtua, terhadap teman sebaya, terhadap anak-anak yang lebih muda. Semua diberikan di SD, sekolah dasar.
Maka, tidak heran jika guru SD mempunyai beban tugas yang terberat dari sekian tingkatan sekolah yang ada. Tetapi, guru SD adalah guru yang selalu taat terhadap setiap keputusan atau kondisi yang diberikan untuk mereka. Mereka-lah kelompok guru yang ‘nurut’ dengan segala aturan sehingga saking nurutnya seringkali dijadikan sebagai kuda tunggangan untuk kepentingan kelompok tertentu. Seringkali dijadikan ‘tebu perasan’.
Banyak hal yang sering dialami oleh guru SD dan semua diterima dengan lapang dada, misalnya pengurusan berkas yang selalu harus dilampiri dengan amplop berisi doku, bahkan beberapa rapelan gaji harus direlakan sebagian sebagai ‘potongan khusus’ dengan dalih berbagai macam, membeli peralatan kantor dinas, cabang dan sebagainya. Padahal jika hal tersebut ditelaah kan sudah ada jatahnya sendiri. Tetapi begitulah yang dialami oleh guru-guru SD, guru-guru dengan tingkat ‘kenganutan’ yang sangat tinggi!
Tetapi, aku senang menjadi seorang guru SD sebab setiap saat aku selalu dikelilingi oleh anak-anak dengan berbagai sikap dan pola kehidupan berbeda- beda. Mereka memberikan warna tersendiri bagi kehidupanku! Mereka lucu!
Kalau kita membicarakan mengenai materi pelajaran, mungkin tidak ada permasalahan sebab semua sudah tersedia di dalam kurikulum yang menjadi anutan, acuan untuk proses pembelajarannya. Guru hanya memilih dan memilah yang seuai untuk anak didiknya.
Tetapi, yang terpenting adalah bagaimana seorang guru mendidik. Terus terang saja, jika kita berpikir logis, proses pembelajaran di SD jauh lebih krusial dibandingkan di sekolah lanjutan. Sekolah lanjutan hanya melanjutkan apa yang sudah didapatkan oleh anak-anak saat menempuh pembelajaran di SD.
SD, sebagai sekolah dasar, mempunyai pengertian bahwa di sekolah inilah anak-anak mendapatkan dasar-dasar setiap permasalahan. Di sekolah inilah mereka mendfapatkan dasar pelajaran IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Matematika, dan yang terpenting adalah pola kehidupan.
Bahwa, sebenarnya, peranan guru sebagai pengajar dan pendidik sekaligus ada di pundak para guru SD. Guru SD-lah yang berperan ganda di dalam proses ini, yaitu sebagai pendidik sekaligus sebagai pengajar. Di SD, anak-anak diajar berbagai pengetahuan dan keterampilan. Di SD anak-anak mendapatkan dasar sikap hidup yang baik dan benar. Nilai-nilai kehidupan diberikan kepada anak-anak di tingkatan ini.
Anak-anak dididik agar dapat bersikap sopan dalam kehidupannya. Bagaimana cara berhormat pada orang yang lebih tua. Bagaimana cara berbicara terhadap orangtua, terhadap teman sebaya, terhadap anak-anak yang lebih muda. Semua diberikan di SD, sekolah dasar.
Maka, tidak heran jika guru SD mempunyai beban tugas yang terberat dari sekian tingkatan sekolah yang ada. Tetapi, guru SD adalah guru yang selalu taat terhadap setiap keputusan atau kondisi yang diberikan untuk mereka. Mereka-lah kelompok guru yang ‘nurut’ dengan segala aturan sehingga saking nurutnya seringkali dijadikan sebagai kuda tunggangan untuk kepentingan kelompok tertentu. Seringkali dijadikan ‘tebu perasan’.
Banyak hal yang sering dialami oleh guru SD dan semua diterima dengan lapang dada, misalnya pengurusan berkas yang selalu harus dilampiri dengan amplop berisi doku, bahkan beberapa rapelan gaji harus direlakan sebagian sebagai ‘potongan khusus’ dengan dalih berbagai macam, membeli peralatan kantor dinas, cabang dan sebagainya. Padahal jika hal tersebut ditelaah kan sudah ada jatahnya sendiri. Tetapi begitulah yang dialami oleh guru-guru SD, guru-guru dengan tingkat ‘kenganutan’ yang sangat tinggi!
Tetapi, aku senang menjadi seorang guru SD sebab setiap saat aku selalu dikelilingi oleh anak-anak dengan berbagai sikap dan pola kehidupan berbeda- beda. Mereka memberikan warna tersendiri bagi kehidupanku! Mereka lucu!
Langganan:
Postingan (Atom)
